Cari Blog Ini

Rabu, 13 April 2022

Motor Astrea Grand Lawas dan Kelembutan Pertamax

 


Inovasi moda transportasi roda dua bergerak trengginas. Hasil inovasi itu memenuhi jalan raya di mana-mana. Kendaraan tunggang keluaran terbaru membabat setiap kesadaran usang tentang performansi body dan akselerasi mesin.

Maraq balang lepas oleq tumben (pepatah sasak). Artinya, bagai belalang lepas dari tabung. Begitulah pengibaratan yang tepat untuk perkembangan produksi sepeda motor dewasa ini. 

Produk alat angkut itu menyeruak dari rahim pabrik menuju dealer lalu penuh sesak memenuhi jalan raya sampai jalanan kampung dengan penampilan yang menggiurkan. Dua perusahaan terkenal, Honda dan Yamaha, bersaing melakukan inovasi yang memberikan pengalaman berkendara yang makin nyaman.

Dikutip dari  dari CNNIndonesia, penjualan sepeda motor di Indonesia sepanjang 2021 berhasil menembus angka 5 juta unit. Berdasarkan data dari GridOto, Honda menjadi merek penjualan terbanyak sepanjang 2021 dengan pencapaian 3.928.788 unit.

Urutan kedua ditempati Yamaha dengan capaian angka penjualan 1.063.866 unit. Secara berurutan posisi tiga, empat, dan lima ditempati oleh Kawasaki (43.540 unit), Suzuki (18.380 unit) dan TVS (2.942 unit).

Motor-motor baru terus berjejal di jalanan. Saya tetap bergeming dengan Motor Astrea Grand keluaran 1997 sejak tahun 2004. Saya tetap bertahan dengan keusangannya. 

Faktor utama sejauh ini soal anggaran yang agak sulit untuk membeli kendaraan baru sesuai selera jaman. Faktor lainnya karena jangkauan berkendara paling jauh yang saya tempuh hanya berjarak 2-3 km. 

Sesekali saja saya harus duduk di atas jok sampai sejauh 45-50 km. Itupun ketika ada keperluan penting dan harus keluar melintas batas kabupaten di pulau Lombok. Artinya saya tidak terlalu memerlukan kelincahan mesin motor untuk berkendara.

Dengannya saya juga merasa nyaman memarkirnya walaupun pada titik yang dianggap rawan kehilangan kendaraan. Mengapa? Kecil kemungkinan akan menjadi sasaran para spesialis pencuri kendaraan roda dua. Mereka harus berfikir dua kali atau lebih untuk mengambilnya karena nilai jualnya tidak akan mencapai satu juta. Sangat tidak sebanding dengan resiko jika ketangkap warga.

Dalam keusangan itu saya telah dibawa ke mana-mana, menuju tempat tugas, menengok mertua, membawa almarhum ibu ke dokter untuk menjalani pemeriksaan rutin. 

Dalam keusangan itu pula saya berusaha menjaga kesehatan mesinnya dengan pertamax sebagai bahan bakar. 

Sejak SPBU Pertamina menyediakan pertamax, saya termasuk aktif menjadi konsumen BBM ini. Saya bukanlah orang yang mengerti tentang mesin walaupun saya menjadi pengguna sepeda motor sejak duduk di bangku SMA. 

Akan tetapi, saya memiliki pengalaman dimana putaran mesin terasa lebih lembut dan bersahabat dengan BBM pertamax. Selama menggunakan BBM itu motor jadul saya jarang diservis kecuali pada bagian yang tidak berhubungan dengan mesin, seperti, rem, lampu, atau permasalahan di seputar roda.

Saya ingat pertama kali membeli pertamax di SPBU terdekat. Petugasnya SPBU sempat bernada menolak mengisi tangki motor saya dengan pertamax ketika melihat motor jadul saya. Dia agak tersipu ketika saya merespon dengan pertanyaan "dijual atau tidak?"

Sayangnya harga bahan bakar pertamax naik sejak 1 April 2022. Akan tetapi, kenaikan itu bukan berarti membuat saya harus pindah ke bahan bakar lain. Saya tetap bertahan menggunakan pertamax. Bukan karena gengsi tetapi kinerja mesin memang lebih maksimal ketika menggunakan pertamax.

Lombok Timur, 03 April 2022

catatan

Tumben dalam masyarakat Sasak adalah semacam tabung terbuat dari bambu tempat menyimpan sesuatu.


Ekowisata Bale Mangrove Poton Bako; Destinasi wisata Berbasis Lingkungan

Rabu siang itu, 16 Maret 2022, setelah mengikuti kegiatan rapat di SDN 4 Jerowaru, saya dan sejumlah kepala sekolah berkunjung ke sebuah lokasi wisata yang tidak jauh dari lokasi rapat.

Angin laut bergerak ringan menerpa dedaunan dan menggoyang ranting kecil. Geraknya menyertakan hawa gerah yang melampaui batas toleransi. Matahari menjerang bumi seakan hendak mendidihkan genangan air laut. Cuaca cerah dalam kuasa hawa panas itu seolah hendak memeras habis keringat setiap pengunjung kawasan ekowisata Poton Bako.

Poton Bako merupakan sebuah perkampungan di pesisir pantai selatan Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Perkampungan nelayan itu tepatnya berada di ceruk lautan yang dikenal dengan nama Teluk Jukung. Sebuah teluk yang terletak wilayah Kecamatan Jerowaro di Kabupaten Lombok Timur. Jika Tuan dan Nyonya berkenan berkunjung dapat mengikuti petunjuk google map ini. 

Ketika memasuki hutan dalam kawasan ekowisata Poton Bako pemandangan awal pengunjung akan tertumpu pada sebuah bangunan seperti panggung yang bertuliskan EKOWISATA BALE MANGROVE. Bale dalam bahasa Sasak berarti rumah. Nama itu sebagai sebuah pesan bahwa kawasan itu seharusnya dianggap sebagai sebuah rumah yang memerlukan perawatan, pemeliharaan, dan pengembangan.

Di dalam hutan mangrove, kondisi udara sangat berbeda. Rimbun pohon mangrove menciptakan kesejukan hampir sempurna. Berada di dalam hutan mangrove pengunjung merasakan keteduhan. Terobos cahaya matahari di sela rimbun mangrove seperti berada di sebuah bangunan rumah besar dengan atap berlubang di sana sini.

Kawasan ekowisata Poton Bako merupakan salah satu destinasi wisata baru di Lombok Timur. Tempat ini dijuluki Bale Mangrove Poton Bako. Dikutip dari Lombok News, kawasan ini dibuka sebagai destinasi wisata yang digagas oleh anak-anak muda setempat. Gagasan itu yang dipicu oleh kegelisahan mereka akibat makin berkurangnya lingkungan hijau di kawasan pantai di banyak tempat termasuk di desa setempat.

Dalam Tempo.co dilaporkan, kawasan yang memiliki luas sekitar dua hektar itu memiliki memiliki dua jenis spesies mangrove yakni Rhizophora dan Sonneratia Alba. Di antara tumbuhan itu terdapat mangrove yang sudah mencapai ratusan tahun sehingga dikategorikan sebagai pohon purba. 

Berdasarkan informasi dari kompas.com, di Lombok bagian utara dalam wilayah kabupaten yang sama, terdapat juga pohon purba lain. Pohon yang terletak di Kecamatan Peringgabaya ini dikenal masyarakat sebagai pohon lian. Tanaman yang dalam istilah latin disebut ficus albipila memiliki akar yang menghunjam ke dalam bumi hingga mencapai sekitar 170 m dengan ketinggian 40-50 meter.

Dalam hutan Ekowisata Bale Mangrove dengan luas sekitar 2 hektar tersebut, pengunjung difasilitasi dengan jembatan yang dibangun khusus agar setiap orang yang masuk leluasa melihat-lihat pemandangan. Jembatan sepanjang kurang lebih 200 m itu memungkinkan pengunjung menikmati belantara mangrove tanpa resiko terbenam dalam lumpur. Saat ini, fasilitas jembatan itu tidak cukup untuk melihat semua area belantara. Beberapa titik di kiri kanan jembatan dibuat spot khusus bagi pengunjung yang berniat foto-foto.

Saya sendiri baru kali ini melihat kumpulan bakau. Akar-akar mangrove itu sebagian bermunculan mirip geliat ular yang tengah menari dalam jumlah yang tak terhitung. Sebagian lagi menancap ke dalam bumi merengkuh lumpur. 

Ekowisata Poton Bako tidak saja berorientasi wisata belaka tetapi juga sebagai sarana edukasi kepada masyarakat dalam rangka peningkatan kesadaran pentingnya pelestarian lingkungan, dalam hal ini hutan bakau. Bahkan bulan Februari 2022 yang lalu di tempat ini telah diselenggarakan festival bale mangrove yang melibatkan siswa sekolah. di sini.

Ide bahwa pelestarian lingkungan tidak saja dalam gagasan semata. Pemuda, pemerhati lingkungan, anak-anak sekolah, dan banyak pihak telah melibatkan diri dalam kegiatan tersebut.


Lombok Timur, 19 Maret 2022

Pornografi; Tuntaskah Diblokir?

Sejarah pornografi mungkin saja setua sejarah manusia walaupun referensi yang mendukung asumsi ini agak sulit ditemukan. Salah satu bukti sejarah mengenai ekspresi pornografik dalam kebudayaan Barat dapat ditemukan dalam nyanyian-nyanyian cabul pada masa Yunani Kuno untuk menghormati Dewa Dionysius.1

Pada abad ke 16, tiga seniman Italia di zaman renaissance membuat sebuah karya masyhur yang berjudul I Modi. Mereka adalah Aretino, Guiulo Romano, dan Marcantonio Raimondi. Tiga seniman itu melukis 16 gambar pada dinding gedung di Vatikan. Semua lukisannya menggambarkan berbagai adegan seksual yang mengundang reaksi keras dari pihak gereja pada waktu itu yaitu pope Clement VII. Tujuan utama Aretino mempublikasikan I Modi adalah menggambarkan adegan seks secara hidup dan sesuai dengan istilah pergaulan dan mengejek pengadilan agama yang terlibat korupsi. Karya Aretino ini dalam pandangan gereja Katolik telah memanfaatkan seks untuk mengekspos kasus korupsi di kalangan elit.2

Pornografi terus berkembang dan tidak saja tersaji dalam gambar. Jika pornografi bertujuan mendapatkan fantasi seksual maka remaja tahun 80/90-an tentu sangat mengenal novel-novel erotis Enny Arrow. Karyanya bisa jadi setara dengan tontonan video dalam kaset betamax yang penggunaannya berkembang pada masa yang sama atau sebanding dengan VCD saat ini yang sudah mulai jarang digunakan. Karya Enny Arrow merupakan novel “bawah tanah” yang tidak mudah didapatkan kala itu.

Sejauh ini batas pornografi dan seni fotografer sangat tipis. Seorang teman kuliah saya dan sekarang masih berteman via medsos menjalani hari-harinya sebagai fotografer. Sasaran kameranya pada saat tertentu menyasar keindahan kupu-kupu dan warna-warni bunga. Pada saat lain, dia menampilkan hasil jepretan serangga kecil yang diperbesar dalam ukuran maksimal sehingga serangga tersebut tampil menakutkan. Sesekali dia juga memotret kakek atau nenek dengan penampilan khas daerahnya. Belakangan dia kerap kali membidik keindahan tubuh perempuan dengan pose yang menantang. Dalam perspektif seni fotografi konon itu dianggap sah.

Dalam sebuah grup FB fotografer saya mendapati hal yang sama. Hasil jepretan fotografer yang mengeksploitasi keindahan tubuh perempuan menjadi sesuatu yang lazim. Memang keindahan fisik perempuan itu tidak ditampilkan tanpa pakaian sama sekali. Namun sisi vulgar atas seni fotografi seperti ini sangat memungkinkan bisa masuk ke ranah pornografi.

Aplikasi teknologi informasi dan komunikasi saat ini demikian bebas memberikan ruang setiap orang untuk berekspresi melalui media sosial seperti FB, Twitter, tik tok, dan sejenisnya. Kebebasan berekspresi itu seringkali harus melampaui batasan nilai moral yang berkembang dalam kehidupan bermasyarakat. Pengguna media sosial dapat dengan mudah mendapati pesan gambar dan video yang mengarah kepada pornografi.

Secara rekreatif fungsi seni sebagai media bertujuan untuk menghibur. Dalam fungsi ini seni bertujuan membangkitkan rasa senang bagi penikmatnya. Seni, dengan demikian, berperan sebagai penyegar pikiran, menghilangkan penat otak setelah bekerja, atau melepaskan diri dari tekanan hidup yang tak diharapkan. Pengertian seni ini tentu juga termasuk dalam seni fotografi.

Ansel Adams 3 menggenapkan pengertian (seni) fotografi sebagai media berekspresi dan komunikasi yang kuat, menawarkan berbagai persepsi, interpretasi,dan ekseskusi yang tak terbatas.4  Seni fotografi dengan demikian memiliki fungsi sebagai media komunikasi untuk menyampaikan pesan tertentu terkait dengan berbagai permasalahan manusia dan kemanusiaannya. Komunikasi seni tidak sekadar menyajikan hasil pengambilan gambar untuk menghasilkan nilai estetik tetapi juga nilai ekstra estetik termasuk nilai sosial dan moral.5 

Upaya menahan laju perkembangan perilaku cabul dalam dunia maya, Menkominfo mengklaim telah berhasil memblokir lebih dari 1 juta situs porno per 31 Desember 2019.6 Sejauh ini pemerintah hanya mampu memblokir situs terlarang dalam negeri walaupun belum sepenuhnya berhasil. 

Bagaimana dengan situs porno luar negeri? Di sinilah persoalannya. Konten pornografi dari berbagai negara masih bisa diakses oleh siapa saja. Jika anda menggunakan mesin google chrome tanpa login dengan akun gmail Anda bisa melenggang ke surga dunia itu dengan bebas. Saya pernah mencobanya. Tentu bukan sebagai upaya untuk menikmati tetapi untuk mencegah anak-anak nyasar ke area terlarang itu. Selebihnya menjadi tanggung jawab orang tua untuk mendampingi anak-anak.

Lombok Timur, 12042022

Kamis, 31 Maret 2022

Penilaian Pembelajaran; Refleksi hasil rapat K3S


Rapat Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Kecamatan Terara, Kamis, 31 Maret 2022, mencakup bahasan yang terdiri dari Sosialisasi Penilaian Akhir Tahun dan Ujian Sekolah pada kelas 6, pendidikan inklusi, dan pelaksanaan KOSN, KSN, dan FLSN.

Suasana rapat cukup alot dan memperlihatkan suasana yang demokratis. Hal itu muncul terutama ketika diskusi tentang pelaksanaan PAT dan US untuk kelas 6. Titik masalah diskusi itu terkait dengan penyusunan soal atau alat evaluasi dalam hal ini penyusun soal.

Secara umum pendapat peserta rapat terbelah ke dalam 4 kelompok, yaitu, 1) Penyusunan soal disusun di tingkat kecamatan dengan melibatkan guru tertentu yang memiliki kapabilitas dan kompetensi yang dapat diandalkan. 2) Penyusunan soal dilakukan di tingkat gugus dengan pola yang sama dengan tingkat kecamatan, dan 3) penyusunan soal dilaksanakan pada tingkat sekolah dengan penyusunan atau pembuatan soal dilakukan oleh guru di sekolah masing-masing, 4) kelompok terakhir mengambil sikap diam.

Dua kelompok pertama (penyusunan soal di tingkat gugus dan kecamatan) memiliki argument yang dapat dianggap sama. Alat evaluasi sebagai alat ukur pembelajaran harus disusun oleh guru-guru tertentu yang memiliki kemampuan untuk itu. Alasan kelompok ini didasari oleh asumsi bahwa tidak semua guru mampu menyusun soal evaluasi secara tepat dan dapat dipertanggungjawabkan. Sejauh ini, sebagian besar guru diasumsikan (mungkin juga dipastikan) belum memiliki kemampuan membuat alat evaluasi (soal penilaian) untuk digunakan sebagai alat ukur dalam Penilaian Akhir Semester dan atau penilaian pada Ujian Sekolah. 

Alasan lainnya, sebagai upaya efisiensi biaya penilaian pada tahap penggandaan. Jika soal disusun dan digandakan secara kolektif pada tingkat gugus atau kecamatan, biaya penggandaan akan lebih rendah karena volume penggandaan akan lebih banyak sehingga membuka peluang harga yang ditawarkan pihak percetakan lebih murah. Berbeda dengan penggandaan dokumen dalam jumlah yang sedikit, standar harga yang diberikan biasanya menyesuaikan dengan harga eceran.

Satu kelompok lainnya berpendapat bahwa soal sebaiknya disusun pada tingkat sekolah. Hal ini dasarkan pada asumsi bahwa guru merupakan komponen yang paling tahu tentang materi atau kompetensi yang sudah diajarkan. Guru pada saat yang sama memiliki tanggung jawab melaksanakan pembelajaran dan evaluasi atau penilaian pembelajaran itu bagian integral dari proses pembelajaran.

Gagasan ke dua ini cukup logis. Pembelajaran merupakan serangkaian proses yang didesign guru dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan tindak lanjut. Ke empat tahapan itu tidak dapat dipisahkan. Ketika seorang guru membuat perencanaan pembelajaran, idealnya guru yang bersangkutanlah yang paling memahami esensi dan alur perencanaan yang dibuatnya. Jika demikian halnya, guru tersebutlah yang paling memahami bagaimana perencanaan itu diwujudkan dalam proses pembelajaran. Muaranya, tentu pada evaluasi pembelajaran. Bagaimana bentuk evaluasi dan apa saja yang perlu dievaluasi tentu berdasarkan proses pembelajaran yang telah dilakukan oleh seorang guru di kelasnya.

Saya tidak berniat berpihak kepada salah satu dari pendapat di atas. Ke duanya memiliki basis argumen yang tentunya didasarkan pada pengalaman dan sudut pandang masing-masing. 

Hanya saja, satu hal yang penting menjadi catatan adalah bahwa selama ini pola penilaian cenderung menyeragamkan mutu sekolah. Akibatnya, penyusunan alat evaluasi pada penilaian semester dan penilaian ujian akhir sekolah cenderung bersifat sentralistik dan menafikan heterogenitas siswa yang ada pada masing-masing sekolah. Ini berarti bahwa alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan informasi tentang perkembangan siswa menggunakan satu parameter.

Akibat paling memilukan adalah adanya kecenderungan kurangnya kemampuan guru dalam menyusun alat ukur. Hal ini terjadi karena mereka tidak diberikan kesempatan untuk membuat soal sendiri.

Dari sudut pandang biaya, argumen ini mungkin bisa dikesampingkan. Perbedaan biaya cetak kolektif beberapa sekolah dengan cetak mandiri menurut saya tidak terlalu signifikan. Hal terpenting adalah bagaimana guru terlatih membuat soal penilaian. Salah satu solusinya adalah dengan memberikan kepercayaan kepada mereka untuk melakukan penilaian secara mandiri.

Bagaimana jika hasil penyusunan soal yang tidak valid sehingga mengorbankan anak-anak sebagai obyek penilaian? Di sinilah proses belajar itu berlaku. Belajar merupakan upaya mengurangi kesalahan. Maka penting untuk melakukan evaluasi setiap proses dan hasil sebagai acuan untuk memperbaiki proses selanjutnya. Salah dan coba lagi. Kalau boleh jujur, munculnya asumsi bahwa guru sebagian besar tidak berkompeten membuat soal karena selama ini mereka telah menjadi korban kebijakan yang perlu ditinjau ulang.

Saya teringat ketika dulu saya dan pembaca artikel ini duduk di bangku sekolah. Para guru di masa lalu yang menjalankan tugas kependidikan dengan keterbatasan teknologi mampu menjalankan tugas dalam memimpin pembelajaran dengan sangat maksimal. Dengan media tulis yang sangat konvensional dalam persepektif kemajuan teknologi saat ini, mereka menjalani tugasnya secara paripurna.

Seharusnya kondisi masa lalu itu dapat mengubah cara berfikir yang lebih maju bagi pelaksanaan pendidikan dewasa ini. Media tulis digital dan sumber belajar yang melimpah dalam jaringan internet saat ini seharusnya membuat guru lebih memiliki kemampuan merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi, dan melakukan tindak lanjut pembelajaran.

Lombok Timur, 31 Maret 2022

Selasa, 08 Maret 2022

Belajar Berbicara Efektif (Catatan sederhana webinar Public Speaking)


Berbicara adalah bagian utama dari proses komunikasi. Berbicara merupakan kegiatan menyampaikan informasi kepada orang lain secara lisan. Setiap orang, kecuali penyandang tuna wicara, secara niscaya akan menjalani keseharian dengan berbicara. Berbicara tidaklah terlalu bermasalah ketika dilakukan dalam situasi santai berupa obrolan di teras rumah atau bertukar cerita dengan teman lama di sebuah kedai kopi.

Situasi akan berbeda, ketika seseorang berbicara di depan publik. Tidak semua orang memiliki kemampuan dan keberanian untuk melakukannya. Kemampuan ini dikenal dengan istilah public speaking. Pada situasi tertentu seseorang bisa dengan lancar berbicara di hadapan orang banyak. Misalnya, seorang kepala sekolah bisa dengan berbicara secara sempurna saat memimpin rapat di depan guru. Hal ini bisa dipahami karena kepala sekolah sudah akrab dengan audiens.

Akan tetapi, pada situasi yang berbeda kepala sekolah bisa mengalami kebuntuan saat menyampaikan materi. Ketika berhadapan dengan audiens yang terdiri dari kepala dinas, bupati, atau sejumlah pejabat, yang bersangkutan bisa dirundung rasa tidak percaya diri sehingga kemampuan kognisinya melemah untuk mengingat materi yang akan disampaikan. 

Dalam situasi ini, pembicara dapat mengacu pada ToR (Term of Reference), gambaran umum tentang informasi latar belakang suatu kegiatan/acara, strategi capaian atau tujuan, penerima manfaat (perserta), waktu kegiatan, dan biaya yang diperlukan.

Public speaking, dengan demikian, dapat dilakukan dengan baik sangat tergantung kepada situasi dan kondisi kegiatan. Hal ini terungkap dari beberapa pengakuan peserta webinar, 08 Maret 2022, bertajuk “Belajar Berbicara Efektif” bersama narasumber profesional di bidangnya, Dedi Dwitagama.

Webinar berlangsung dialogis, suasana santai laiknya sebuah obrolan biasa. Situasi itu membuat peserta mengikuti webinar dengan antusias lebih berkonsentrasi. Narsum memilih menyampaikan materi berdasarkan pertanyaan peserta. Saya berasumsi dengan metode seperti itu narsum dapat menyampaikan materi sesuai dengan kebutuhan peserta dengan latar belakang yang berbeda.

Hal mendasar yang perlu diperhatikan, menurut narsum, adalah bahwa seorang public speaker harus mempersiapkan diri dengan matang sebelum tampil berbicara. Idealnya peserta harus menguasai materi yang akan disampaikan. Secara teknis, pembicara harus membuat konsep materi yang akan disampaikan. Dengan persiapan seperti ini, pembicara dapat terhindar dari kendala kognitif dalam mengingat materi. Jika menggunakan slide, pembicara harus mempersiapkan gambaran besar materi dengan design presentasi yang menarik audiens. Hindari copy paste.

Sebagai pembicara, harus memiliki integritas; upayakan hadir lebih awal di lokasi kegiatan, datang dengan penampilan rapi sangat penting untuk memberikan kesan positif. Tampil dengan ramah dan senyum kepada semua audiens. Tunjukkan sikap percaya diri. Menjadi diri sendiri jauh lebih baik daripada meniru gaya berbicara orang lain. Pembicara harus menikmati penampilannya. 

Kapasitas pembicara tidak sama. Pada MC, public speaker penting didukung dengan data audiensi, seperti nama, gelar, atau jabatan. MC memiliki kewenangan dalam mengatur waktu. Jika pembicara melampaui batas waktu, MC berhak memberikan peringatan tetapi dengan cara dan etika yang dapat dipertanggungjawabkan. Hindari memberikan kesimpulan materi yang disampaikan orang lain

Ada pembicara melakukan pengulangan kata atau kalimat yang sama. Ini dapat mempengaruhi citra pembicara di hadapan audiens. Untuk kasus ini pembicara dapat mempersiapkan diri dengan merekam dirinya sendiri lalu mencatat kata atau kalimat yang sering mengalami pengulangan. Hal paling penting adalah MC harus menguasai acara yang sedang berlangsung dan sampaikan materi dengan 5H & 1H.

Penilaian terhadap proses dan hasi kegiatan merupakan bagian integral dan tidak dapat diabaikan. Hasil penilaian itulah yang dapat dijadikan dasar untuk memperbaiki kegiatan selanjutnya. Dokumentasi kegiatan merupakan salah satu media untuk melakukan evaluasi sekaligus sebagai bukti faktual bahwa seseorang pernah melakukannya.

Lombok Timur, 09 Maret 2022

Menulis Itu Mudah? (9)

  Benarkah menulis itu mudah? Pertanyaan ini pada dasarnya muncul dari dua pernyataan yang bersifat paradoks, berseberangan, atau bertentang...